AgamaFeaturesHeadline

Meluruskan Sejarah NU Yang Ditikung

Ceramah seorang oknum habib yang mengatakan, berdirinya Nahdlatul Ulama tidak lepas dari peran Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor Bondowoso yang menunjuk KH Hasyim Asy’ari untuk jadi ketua NU pertama, jelas sebuah penelikungan sejarah yang sangat berbahaya untuk generasi bangsa dimasa depan.

Oleh : Hamdan Suhaemi

Menurut cerita yang dibuat-buat ini, Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor menunjuk KH Hasyim karena saat itu orang Arab atau orang luar asing oleh Belanda tidak diperbolehkan mendirikan firqoh atau perkumpulan.

Dalam tulisan ini penulis ingin membahas dan membuktikan bahwa, sejarah ini adalah satu dari sekian banyak kejahatan sejarah yang dilakukan kelompok Habaib demi eksistensi klan mereka di bangsa ini.

BEGINI, Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor seorang menantu dari Habib Muhammad Idrus al-Habsy adalah imigran Yaman datang ke Indonesia dan tinggal di Bondowoso, ia lahir 1859 Masehi di Quwaireh Hadramaut, Yaman dan wafat di Bondowoso pada 4 Mei 1926 dan dimakamkan di Surabaya samping mertuanya Habib Idrus al-Habsy.

Umumnya habib yang dari Yaman itu adalah berasal dari sadah Ba’Alawi, mereka mukim di Indonesia dan berkegiatan dagang juga berdakwah, itu berlangsung dari awal abad 19 Masehi hingga sampai berakhirnya masa penjajahan Belanda. Mereka ada yang tinggal di Kwitang Jakarta, ada juga yang bermukim di Surabaya dan beberapa daerah di Indonesia.

Sementara Ulama pesantren di Jawa berkegiatan mengajar ilmu-ilmu agama Islam, hingga dikatakan ulama karena kealimannya, rerata ulama tersebut sebagian mesantren di Mekkah Al-Mukarramah di bawah bimbingan masyayikh, muallifin dan mushonifin terutama mengaji di bawah bimbingan Sayyid ulama Hijaz Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Mahfudz Termas, Syaikh Hatib Minangkabau.

Bisa saja telah terjadi interaksi antara para habaib dengan ulama pesantren, atau bisa jadi Habib Muhammad bin Ahmad al-Mukhdor mendatangi Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang, tetapi apakah bicara tentang jam’iyah, apakah bicara tentang kesadaran kebangkitan atas penjajahan, apakah bicara tentang ide mengorganisir seluruh ulama dan Habaib hingga terbentuknya suatu organisasi atau perserikatan?.

Era penjajahan yang terpikirkan kemungkinan besarnya adalah bagaimana hidup, bagaimana ibadah, karena itu sedikit yang bicara soal kesadaran kebangkitan, hanya sedikit yang memikirkan nasib tanah airnya. Lahirnya Boedi Oetomo 1908 oleh kaum aristokrat seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Cipto Mangunkusumo adalah sekian kecil dari para bangsawan Jawa yang tergugah untuk melakukan sikap perlawanan atas penjajah.

Lahirnya SDI juga karena melihat ketidakadilan, pendirinya yakni Husni Thamrin dan H.O.S Cokroaminoto, H. Agus Salim beberapa tokoh yang memiliki sense of responsibilities karena sudah muak melihat aturan kolonial yang berakibat meningkatnya kesengsaraan kaum pribumi.

Semua perkumpulan atau perserikatan yang didirikan kaum pribumi merupakan antiklimaks dari sikap perlawanan pribumi untuk mengusir penjajah Belanda, lain tujuan itu sama sekali tidak, muaranya adalah bagaimana caranya mengusir penjajah.

Sejarah Lahirnya NU

Menurut KH. As’ad Syamsul Arifin, ulama NU yang kharismatik dari Asembagus Situbondo yang juga adalah saksi sejarah lahirnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama telah menceritakan ( sumber dari rekaman pidato KH. As’ad Syamsul Arifin), begini.

” Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan Madura, di pondok Kiai Kholil. Adalah Kiai Muntaha Jengkebuan menantu Kiai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia, masing masing-masing ulama melaporkan, dengan kata-kata bagaimana kiai Muntaha? tolong sampaikan kepada Kiai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya, ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadrotusyaikh, tidak ada yang berani kalau bukan anda yang menyampaikannya “.

Di luar dugaan, ketika Kiai Muntaha hendak menghadap kepada Kiai Kholil di Bangkalan, tiba-tiba kiai Muntaha dan 66 orang kiai itu didatangi oleh Kiai Nasib, suruhan Kiai Kholil dengan menyampaikan ayat yang ke 32 dari al-Quran surat al-Taubat.

Semua dibuat tercengang karena Kiai Kholil justru sudah tahu maksud mereka mau sowan kepadanya, hingga 66 kiai yang di jungkeban tidak jadi sowan kepada Kiai Kholil di Bangkalan, karena mereka sudah puas ada jawaban ayat yang disampaikan oleh kiai Nasib, atas perintah Kiai Kholil.

Pada ahun 1921, dilanjutkan di tahun 1922 ulama ahli Sunnah wal Jama’ah berjumlah 46 orang yang semuanya pengasuh pesantren mengadakan musyawarah di rumah Mas Alwi di Kawatan Surabaya, diantara 46 ulama itu adalah ayahnya Kiai As’ad Syamsul Arifin yaitu Kiai Syamsul Arifin, ada pula Kiai dari pondok Sidogiri, Kiai Hasan Genggong. Sementara dari Kudus ada Kiai Raden Asnawi, sisanya dari Jombang, namun musyawarah tersebut tidak menemukan kesimpulan ( sumber rekaman pidato KH. As’ad Syamsul Arifin).

Masih penuturan KH. As’ad Syamsul Arifin, bahwa pada tahun 1924 ia dipanggil gurunya yakni Syaikhona Kholil untuk menemui KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang, agar membawakan sebuah tongkat dan diberikan kepada KH. Hasyim Asy’ari, disertai pula tugas untuk menyampaikan ayat Al-Qur’an ( 17-21) surat Thoha.

Sesampainya di pesantren Tebuireng, tongkat Syaikhona Kholil diterima oleh KH. Hasyim Asy’ari, dan Kiai Hasyim mengatakan kepada As’ad Syamsul Arifin ” alhamdulillah nak, saya ingin mendirikan Jam’iyah ulama, saya teruskan kalau begini dan tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kiai Kholil kepada saya ” .

Masih di tahun yang sama yakni tahu 1924, hanya beda bulan Kiai As’ad Syamsul Arifin ditugaskan kembali oleh gurunya untuk datang kembali ke pesantren Tebuireng, kata Syaikhona Kholil kepada As’ad Syamsul Arifin” As’ad, kesini ! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim, ini tasbih antarkan ” lalu disuruh pegang ujung tasbihnya, kemudian Syaikhona Kholil mengucapkan ” ya Jabbar ya Jabbar ya Jabbar, ya Qohhar ya Qohhar ya Qohhar ” .

Sesampainya di Tebuireng, Kiai As’ad Syamsul Arifin menyerahkan tasbih dan mengucapkan ya Jabar ya Qohhar sesuai yang diperintahkan syaikhona Kholil gurunya, kemudian KH. Hasyim Asy’ari mengatakan kepada kiai As’ad ketika akan menerima tasbih tersebut ” Masya Allah, Masya Allah saya diperhatikan betul oleh guru saya, mana tasbihnya ?”. Lalu KH. Hasyim Asy’ari berucap” siapa yang berani pada jam’iyah ulama akan hancur, siapa yang berani pada ulama akan hancur “.

Pada 31 Januari 1926, bertepatan 16 Rajab 1344 H, pukul 11:15 WITA bertempat di gedung Bubutan Surabaya, Jawa Timur Jam’iyah Nahdlatul Ulama telah lahir sebagai organisasi para ulama yang bermadzhab Ahli Sunnah wal Jama’ah, sekaligus wadahnya kiai-kiai pesantren. Meski sebelumnya melalui proses panjang niatan para ulama untuk mendirikan Jam’iyah ulama dari runtutannya sejak tahun 1920, 1921, 1922, 1923 hingga 1924.

Jadi kelahiran Nahdlatul Ulama tidak kala itu langsung jadi di tahun 1926, akan tetapi melalui proses panjang. Itupun diinisiasi, digagas, dan digerakan oleh kiai-kiai pesantren seluruh Jawa. Terutama peran KH. Wahab Hasbullah, KH. Ridwan Abdullah, Mas Alwi Abdul Aziz ( kiai ini yang mengusulkan nama Nahdlatul di depan kata Ulama), KH. Dahlan, KH. Raden Asnawi, KH. Maksum, KH. Hasan Genggong, KH. Nawawi Sidogiri.

Diantara para ulama tersebut, figur sentralnya yaitu KH. Hasyim Asy’ari, ulama besar yang ahli hadits, mutafannin, pendiri dan pengasuh Pesantren Tebuireng yang oleh seluruh ulama di Jawa menggelarinya dengan Hadrotusyaikh. Berdasarkan restu dan do’anya Syaikhona Kholil Bangkalan, maka Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari memimpin pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Dengan demikian tidak ada sama sekali peran Habaib di dalam proses pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Meskipun ada yaitu Habib Hisyam Pekalongan, buyut Maulana Habib Lutfi Pekalongan itu hanya pada restu beliau kepada Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan ikut mendoakannya. Lain itu tidak ada.

Struktur Awal Nahdlatul Ulama saat didirikan.

Untuk lebih jelas bahwa Jam’iyah Nahdlatul Ulama didirikan oleh para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah, maka saya tuliskan struktur pengurus NU di tahun 1926, yaitu.

Syuriah
Rois Akbar : Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari
Wakil Rois : KH. Ahmad Dahlan ( Surabaya )
Katib Awal : KH. Abdul Wahab Hasbullah
Katib Tsani: KH. Abdul Halim Leuwimunding
A’wan :
KH. Mas Alwi Abdul Aziz
KH. Ridwan
KH. Said
KH. Bisri Sansuri
KH. Abdullah Ubaid
KH. Nachrawi ( Malang)
KH. Amin
KH. Masyhuri
KH. Nachrawi ( Surabaya)

Mustasyar
KH. Raden Asnawi Kudus
KH. Ridwan ( Semarang)
KH. Mas Nawawi ( Sidogiri)
KH. Muntaha ( Madura)
Syaikh Ghanaim al-Misri
KH. Raden Hambali

Tanfidziyah
Ketua : H. Hasan Gipo ( Surabaya)
Sekretaris: H. Sidiq ( Pemalang)
Bendahara:
H. Burhan
H. Saleh Syamil
H. Ichsan
H. Djafar Aiwan
H. Usman
H. Achzab
H. Nawawi
H. Dahlan
H. Mangun

Struktur Pengurus awal Jam’iyah Nahdlatul Ulama tahun 1926 diambil dari sumber buku karya Abu Bakar Atjeh yaitu ” Sejarah Hidup KH.A. Wachid Hasyim “, dan dari buku karya Muhammad Rifai yaitu ” KH. Hasyim Asy’ari, Biografi Singkat 1871-1947 “.

Kesaksian Orang Barat

Adalah Prof. Benhard Dahm dalam bukunya ” History of Indonesia in the twentieth Century ” telah menjelaskan mengenai figur keulamaan Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy’ari Tebuireng.

” At the same time as the traditional authorities declined in public estimation a new elite came into prominence the hajis and the kyais ”

Sementara Peter Mansfield menggambarkan gerakan ilmiah yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari dan ulama lainnya dalam upaya menghadapi bahaya ekspansionisme Eropa, ia mengatakan.

” The burden of their calls was that they should unite in a great pan islamic movement to face the common danger of Europe pean expansionism ” .

Jadi dalam kesejarahan di awal abad 20, pergolakan yang tengah terjadi, dan pergulatan dalam upaya kebangkitan tanah air yang digerakkan oleh Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy’ari mendapat sorotan dari para sejarawan Barat yang hidup sekurun dengan Hadrotusyaikh. Figur ulama besar tanah Jawa bahkan Nusantara umunya, ada pada sosok Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Kesaksian Orang Barat tersebut kita pahami bahwa derajat Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy’ari pasca meninggalnya syaikhona Kholil Bangkalan yang tertinggi dari sekian ulama yang ada di Nusantara, karena kealimannya, kesalehannya, akhlaqnya, dan spiritualitasnya.

Kita pun tentu tahu bahwa Hadrotusyaikh KH Hasyim Asy’ari adalah keturunan Kanjeng Sunan Giri, Syaikh Sayid Ainul Yaqin bin Syaikh Sayyid Maulana Ishak II, dan itu artinya Kanjeng Sunan Giri berdasarkan Naqob internasional tersambung pada jalur keturunan Saidina Hasan bin Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rosulillah S.a.w.

Kesimpulan

Berdasarkan sejarah yang benar dan valid, bahkan sesuai bukti, informasi dari saksi sejarah berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama yaitu KH. As’ad Syamsul Arifin tidak disebutkan Habib siapapun dari marga manapun yang ikut mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. []

Penulis adalah seorang Aktifis NU yang aktif menulis di berbagai media. Saat ini aktif sebagai Wakil Ketua PW GP Ansor Banten, Ketua PW Rijalul Ansor Banten, Idaroh Wustho Jatman Banten, Sekretaris Komisi HAUB MUI Banten, Ketua FKUB Kab Serang dan Dewan Pakar ICMI Provinsi Banten

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek juga
Close
Back to top button