HeadlineInternasionalTak Berkategori

NUBUAT KEHANCURAN ISRAEL DALAM ESKATOLOGI ABRAHAMIK

Maka, nubuat kehancuran Israel dalam eskatologi Abrahamik bukan sekadar ramalan politik, melainkan sebuah peringatan teologis yang mendalam. Ia mengajarkan bahwa kedaulatan sejati adalah milik Tuhan, dan tanah suci hanya bisa dikelola oleh mereka yang menegakkan keadilan dan menyembah-Nya dengan benar.

L. Faqih Saiful Hadie

Wacana mengenai eksistensi dan kejatuhan entitas politik di tanah Palestina merupakan salah satu tema paling sentral dalam eskatologi agama-agama Abrahamik. Dalam perspektif Yahudi, Kristen, dan Islam, tanah tersebut bukanlah sekedar hamparan geografi, melainkan panggung teologis tempat janji Tuhan dan peringatan-Nya bermanifestasi. Narasi mengenai “kehancuran Israel” sering kali dipahami bukan sekedar sebagai peristiwa militer, melainkan sebagai konsekuensi moral dan spiritual dari perilaku umat yang menerima amanah atas tanah suci tersebut.

​Dalam tradisi Islam, diskursus ini berakar kuat pada teks Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Isra’ ayat 4-8. Ayat-ayat ini secara eksplisit menyebutkan tentang dua kali kerusakan besar yang akan dilakukan oleh Bani Israil di muka bumi. Allah swt berfirman bahwa setelah kerusakan pertama dan pembalasan yang mengikutinya, akan datang masa di mana mereka kembali menjadi kuat, namun kemudian akan datang “hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan hebat” untuk menyuramkan wajah-wajah mereka dan memasuki Masjid (Al-Aqsa) sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama.

​Analisis terhadap teks ini memicu perdebatan panjang di kalangan mufasir. Ulama klasik seperti Ibnu Katsir cenderung melihat nubuat ini sebagai peristiwa masa lalu, yang merujuk pada penghancuran Yerusalem oleh Nebukadnezar dari Babilonia atau Titus dari Romawi. Namun, mufasir kontemporer seperti Sayyid Qutb dan Syeikh Mutawalli ash-Sha’rawi melihat adanya dimensi futuristik dalam ayat ini, di mana “kerusakan kedua” dikaitkan dengan entitas politik modern yang berdiri sejak 1948.

​Perspektif eskatologi Islam juga sangat dipengaruhi oleh hadits-hadits mengenai akhir zaman (Fitann wa Al-Malahim). Salah satu hadits yang paling sering dikutip adalah riwayat Imam Muslim mengenai pertempuran antara Muslim dan Yahudi, di mana pepohonan dan batu akan berbicara. Hadits ini dipahami oleh para ulama bukan sebagai bentuk kebencian rasial, melainkan sebagai gambaran eskalasi konflik puncak di mana alam semesta seolah menolak ketidakadilan yang telah mencapai batasnya.

​Dalam teologi Yahudi sendiri, konsep kehancuran atau pembuangan (Galut) adalah tema yang berulang. Kitab para nabi (Nevi’im) seperti Yeremia dan Yehezkiel penuh dengan peringatan bahwa kedaulatan Israel di tanah tersebut bersifat bersyarat (conditional). Jika mereka meninggalkan hukum Taurat dan melakukan ketidakadilan sosial, maka tanah tersebut akan “memuntahkan” mereka. Kelompok Yahudi ultra-ortodoks seperti Neturei Karta bahkan meyakini bahwa pendirian negara Israel sebelum datangnya Mesias adalah bentuk pembangkangan terhadap kehendak Tuhan yang akan berujung pada kehancuran.

​Eskatologi Kristen, terutama aliran dispensasionalisme, memiliki pandangan yang lebih kompleks. Di satu sisi, mereka melihat kembalinya Yahudi ke Palestina sebagai penggenapan nubuat untuk menyambut kedatangan kedua Yesus Kristus (Second Coming). Namun, dalam skenario “Armageddon” yang mereka yakini, Israel digambarkan akan melewati masa kesengsaraan besar (Great Tribulation) di mana dua pertiga dari mereka diprediksi akan binasa sebelum sisa-sisanya menerima Yesus sebagai Mesias.

​Pendapat ulama kontemporer seperti Syeikh Ahmed Yassin atau Dr. Safar al-Hawali mencoba mensinergikan teks Al-Qur’an dengan realitas politik. Al-Hawali dalam bukunya Yaum al-Ghadab (Day of Wrath), melakukan analisis numerikal dan historis terhadap Kitab Daniel dan Kitab Wahyu untuk memprediksi akhir dari eksistensi politik Israel. Meskipun pendekatan matematis ini sering diperdebatkan validitasnya, hal ini menunjukkan betapa kuatnya keyakinan bahwa kekuatan materi tidak akan mampu melawan ketetapan transenden.

​Penting untuk dicatat bahwa dalam pandangan Islam, nubuat kehancuran ini sering dikaitkan dengan turunnya Nabi Isa as. dan munculnya Imam Mahdi. Kehancuran Israel dalam konteks ini dipahami sebagai runtuhnya sistem ketidakadilan yang dipimpin oleh Dajjal. Oleh karena itu, peristiwa ini dianggap sebagai bagian dari pembersihan global menuju era keadilan yang dijanjikan di bawah panji tauhid.

​Analisis mendalam terhadap istilah “hamba-hamba Kami” (ibadan lana) dalam Surah Al-Isra’ memberikan poin krusial. Sebagian ulama berpendapat bahwa penghancur Israel tidak harus orang beriman, sebagaimana Nebukadnezar yang penyembah berhala pun disebut sebagai instrumen Tuhan. Namun, mufasir modern menekankan bahwa jika kehancuran kedua ini adalah yang terakhir, maka pelakunya haruslah umat yang memiliki ketaatan spiritual dan kesiapan material yang paripurna.

​Sisi sosiologis dari nubuat ini juga dibahas oleh pemikir seperti Dr. Abdul Wahab El-Messiri. Beliau berargumen bahwa “kehancuran” tersebut bisa terjadi secara organik melalui kontradiksi internal di dalam masyarakat Israel sendiri, seperti polarisasi antara Yahudi sekuler dan religius, serta ketergantungan absolut pada kekuatan eksternal. Secara teologis, hal ini selaras dengan sunnatullah bahwa peradaban yang berdiri di atas penindasan akan runtuh oleh beban moralnya sendiri.

​Dalam literatur hadits, disebutkan juga mengenai Thaikah al-Mansurah (Kelompok yang Menang) yang akan terus berperang di pintu-pintu Baitul Maqdis. Kehadiran kelompok ini dianggap sebagai prasyarat eksistensial bagi terjadinya nubuat tersebut. Ulama menegaskan bahwa kemenangan ini bukan sekadar pergantian kekuasaan, melainkan kembalinya fungsi spiritual Yerusalem sebagai pusat peribadatan yang suci bagi semua manusia di bawah syariat Allah.

​Menariknya, nubuat ini juga menyentuh aspek ekologis. Hadits mengenai pohon Gharqad sebagai “pohon Yahudi” sering menjadi bahan kajian. Para ulama menjelaskan bahwa ini melambangkan bagaimana teknologi dan alam pun akan terlibat dalam pemisahan antara yang hak dan yang batil di akhir zaman. Setiap unsur ciptaan akan dipaksa untuk mengambil posisi dalam konfrontasi terakhir ini.

​Kritik terhadap pembacaan nubuat ini biasanya datang dari kalangan rasionalis yang menganggapnya sebagai bentuk eskapisme politik. Namun, bagi kaum beriman, nubuat adalah bagian dari akidah tentang hari akhir. Ulama seperti Yusuf al-Qaradawi menekankan bahwa mempercayai nubuat tidak berarti pasif menunggu keajaiban, melainkan sebagai motivasi untuk memperbaiki diri agar layak menjadi instrumen Tuhan dalam mewujudkan janji-Nya.

​Dalam perspektif eskatologi perbandingan, terdapat kesamaan pola bahwa keangkuhan kekuasaan akan selalu berakhir dengan intervensi Ilahi. Baik dalam narasi “Kiamat Sugra” bagi sebuah bangsa maupun “Kiamat Kubra” bagi dunia, Israel diposisikan sebagai ujian terakhir bagi kemanusiaan. Apakah keadilan bisa ditegakkan di tanah yang paling banyak menerima darah para nabi?

​Analisis terhadap teks Daniel 9:24-27 dalam Alkitab sering disandingkan oleh para peneliti eskatologi dengan narasi Islam untuk mencari titik temu mengenai durasi kekuasaan di Yerusalem. Meski terdapat perbedaan interpretasi kronologis, benang merahnya tetap sama, ada batas waktu yang ditetapkan Tuhan bagi setiap kekuatan duniawi, dan tidak ada negara yang bersifat abadi jika ia menyimpang dari jalur moralitas universal.

Para ulama juga menyoroti aspek “kesombongan besar” (‘uluwwan kabira) yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Mereka berpendapat bahwa kekuatan teknologi dan militer yang dimiliki Israel saat ini adalah manifestasi dari kesombongan tersebut. Secara dialektis, semakin tinggi kesombongan suatu bangsa, semakin keras pula kejatuhan yang akan dialaminya saat janji Tuhan tiba pada waktunya.

​Dalam konteks hadits tentang Al-Malhamah Al-Kubra (Perang Besar), wilayah Syam (termasuk Palestina) menjadi titik sentral. Hal ini mengindikasikan bahwa nasib Israel tidak bisa dipisahkan dari peta besar pergolakan akhir zaman di Timur Tengah. Kehancuran tersebut dipandang sebagai katalisator bagi perubahan tatanan dunia secara total, mengakhiri dominasi materialisme dan memulai era spiritualitas.

Maka, nubuat kehancuran Israel dalam eskatologi Abrahamik bukan sekadar ramalan politik, melainkan sebuah peringatan teologis yang mendalam. Ia mengajarkan bahwa kedaulatan sejati adalah milik Tuhan, dan tanah suci hanya bisa dikelola oleh mereka yang menegakkan keadilan dan menyembah-Nya dengan benar. Sejarah adalah sirkulasi hari-hari di mana yang kuat akan dilemahkan dan yang tertindas akan diangkat.

Saya ingin menyimpulkan bahwa baik teks Al-Qur’an, hadits, maupun literatur nabi-nabi terdahulu memberikan gambaran yang konsisten mengenai berakhirnya sebuah entitas yang melampaui batas di tanah suci. Kehancuran tersebut dipandang sebagai sebuah kepastian teologis (wa’dan ma’fula) yang akan terjadi saat syarat-syarat moral dan spiritual terpenuhi. Bagi umat beriman, hal ini adalah bagian dari keyakinan terhadap keadilan Tuhan yang mutlak di akhir sejarah.

​Studi tentang nubuat ini tentu saja menuntut sikap yang bijaksana. Ulama memperingatkan agar tidak terjebak pada penentuan tanggal yang spekulatif, melainkan fokus pada persiapan iman. Sebab, pada akhirnya, kehancuran sebuah kekuatan zalim hanyalah pintu pembuka bagi tegaknya kebenaran yang akan menyinari seluruh alam semesta sebelum sangkakala kiamat ditiupkan.

Bahan bacaan :
Ibnu Katsir. Al-Bidayah wan Nihayah (Kisah Akhir Zaman). (Interpretasi mengenai kehancuran Bani Israil dalam Surah Al-Isra’).
Safar al-Hawali. Yaum al-Ghadab: Hal Bada’a bi Intifadati al-Rajab? (Day of Wrath). (Analisis nubuat dalam Kitab Daniel dan Al-Qur’an terkait Israel).
Abdul Wahab El-Messiri. Al-Idiyulujiyya al-Sahyuniyya (Ideologi Zionisme). (Kajian sosiologis-teologis tentang masa depan entitas Zionis).
Sayyid Qutb. Fi Zhilal al-Qur’an. (Tafsir mendalam mengenai Surah Al-Isra’ dan karakter Bani Israil).
Neturei Karta International. The Dangers of Zionism and the True Jewish View. (Perspektif teologi Yahudi Ortodoks mengenai negara Israel modern).

Adsvertise
Selengkapnya
Back to top button