
Ironi tentang Tanah Yang Dijanjikan memberikan pelajaran penting tentang hakikat konflik dan kemanusiaan. Tanah sesungguhnya hanyalah benda mati tanpa kehadiran manusia yang merasa aman di atasnya.
L. Faqih Saiful Hadie
Konsep mengenai “Tanah yang dijanjikan” telah menjadi fondasi eksistensial bagi narasi zionisme selama lebih dari satu abad. Wilayah ini dipandang bukan sekadar sebagai entitas politik, melainkan sebagai rumah spiritual yang sakral, tempat di mana identitas kolektif dibangun di atas memori sejarah dan janji-janji teologis. Namun, ketika realitas geopolitik berubah menjadi palagan tempur yang mencekam, makna “rumah” tersebut mengalami pergeseran drastis dari tempat perlindungan menjadi zona bahaya.
Ironi mulai muncul ketika hujan rudal berhamburan dari langit yang sebelumnya dianggap sebagai payung perlindungan ilahi. Bagi sebuah bangsa yang membangun legitimasinya di atas klaim keterikatan abadi dengan tanah tersebut, fenomena warga yang berbondong-bondong mengantre tiket di bandara menciptakan sebuah kontradiksi visual yang tajam. Tanah yang diperjuangkan dengan narasi “kembali ke rumah” kini justru menjadi tempat yang ingin segera ditinggalkan demi keselamatan nyawa.
Ketegangan ini menunjukkan bahwa dalam situasi krisis eksistensial, naluri kemanusiaan untuk bertahan hidup sering kali melampaui doktrin ideologis yang paling kuat sekalipun. Ketika sirene serangan udara meraung dan sistem pertahanan udara mencapai titik jenuh, kesakralan tanah tersebut seolah luntur di bawah bayang-bayang ledakan. Tiket pesawat menuju luar negeri pun bertransformasi menjadi benda yang jauh lebih berharga daripada sertifikat kepemilikan tanah atau kesakralan sebuah narasi sejarah.
Eksodus singkat ini mencerminkan kerapuhan dari konsep keamanan yang selama ini dibanggakan. Israel sering kali dicitrakan sebagai negeri yang memiliki benteng maha kokoh tak tertembus, namun ketika ancaman datang dari langit secara masif, ilusi keamanan itu runtuh. Mereka yang selama ini merasa berada di rumah yang paling aman di dunia, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan bahwa tanah tersebut bisa menjadi jebakan maut jika tidak ada jalan keluar yang cepat.
Fenomena berebut tiket melarikan diri ini juga menunjukkan adanya dualitas identitas dalam masyarakat Israel hari ini. Banyak warga yang memiliki kewarganegaraan ganda atau koneksi internasional, yang memungkinkan mereka untuk melihat tanah tersebut sebagai pilihan, bukan takdir akhir. Hal ini menciptakan ironi yang mendalam. Di satu sisi, narasi sejarah menekankan pada akar yang menghujam dalam tentang “Eretz Yisrail” (Tanah Iseael yang dijanjikan), namun realitas hari ini menunjukkan bahwa akar tersebut ternyata bersifat temporer dan siap dicabut kapan saja.
Di sisi lain, pemandangan bandara yang penuh sesak oleh mereka yang ingin pergi memberikan gambaran tentang kegagalan militerisme dalam memberikan kedamaian batin. Senjata secanggih apa pun ternyata tidak mampu membeli rasa tenang bagi penduduknya. Tanah yang dijanjikan sebagai tempat peristirahatan dari persekusi global justru berubah menjadi episentrum kecemasan yang membuat penghuninya merasa perlu “diselamatkan” dari tanah mereka sendiri.
Ironi ini semakin tajam ketika kita melihat bagaimana narasi pengorbanan sering kali digaungkan dalam kurikulum pendidikan dan militer. Namun, ketika teori bertemu dengan praktik serangan rudal yang nyata, prioritas individu bergeser secara pragmatis. Memilih untuk pergi sementara bukan berarti meninggalkan iman, tetapi itu menunjukkan bahwa kecintaan pada tanah air sering kali memiliki batas ketika berhadapan dengan kemungkinan kehancuran fisik yang total.
Selain itu, situasi ini menciptakan degradasi moral pada klaim kepemilikan mutlak. Jika sebuah tanah dianggap begitu suci dan berharga sehingga layak diperebutkan selama puluhan tahun, namun ditinggalkan saat situasi memburuk, maka muncul pertanyaan tentang esensi dari hubungan manusia dengan tanah tersebut. Apakah itu benar-benar hubungan spiritual yang tak terpisahkan, ataukah sekadar kenyamanan yang bergantung pada stabilitas keamanan?
Hujan rudal yang mengakibatkan antrean di gerbang keberangkatan di Bandara Internasional Ben Gurion adalah simbol dari keretakan psikologis. Hal ini membuktikan bahwa teknologi perang dan klaim teologis tidak selalu cukup untuk menjamin keberlangsungan sebuah pemukiman di wilayah yang penuh konflik. Ketakutan yang merayap di bungker-bungker “Eretz Yisrail” adalah pengingat bahwa di balik retorika politik yang bombastis, terdapat manusia-manusia yang rapuh dan mendambakan keamanan di tempat lain.
Pada akhirnya, ironi tentang Tanah Yang Dijanjikan ini memberikan pelajaran penting tentang hakikat konflik dan kemanusiaan. Tanah sesungguhnya hanyalah benda mati tanpa kehadiran manusia yang merasa aman di atasnya. Ketika mereka yang menganggap tanah itu suci justru berebut tiket untuk menjauhinya, kita melihat sebuah realitas pahit, ternyata kedamaian sejati tidak terletak pada klaim atas tanah, melainkan pada kemampuan untuk hidup tanpa rasa takut akan ancaman kehancuran yang datang dari langit.
Kopang, 25 Ramadhan 1447.