
TRUMP & HITLER, TAK SERUPA TAPI SAMA.
“Kemiripan mereka itu lebih ke playbook atau cara main politiknya yang populis, nasionalis ekstrem, dan sering nyerang institusi demokrasi. Apakah Trump itu Hitler versi modern?”
Lalu Faqih Saiful Hadie
Kayaknya pembaca Gen-Z yang rajin bolak-balik buku sejarah pasti bisa nebak-nebak apa konklusi dari tulisan saya kali ini, atau paling tidak sebuah premis mayorlah, bahwa persamaan paling kentara dari kedua tokoh ini adalah sama-sama penjahat perang.
Kalau kita pretelin pake kacamata sejarah dan politik yang lebih rinci, emang sih ada beberapa pola yang bikin orang cenderung buat ngambil kesimpulan ini. Salah satunya adalah mereka hampir “kembar identik” dalam cara dan pola mereka mainin psikologi massa dan narasi politik buat dapet kekuasaan.
Kalau Trump, satu hal yang paling kelihatan jelas itu jargon “Make America Great Again”. Ini tuh punya “vibe” yang sama banget sama slogan Hitler pas kampanye dulu, yaitu “Alles für Deutschland” atau narasi balikin kejayaan Jerman yang sempat ancur lebur pasca Perang Dunia I. Keduanya sama-sama jualan nostalgia, ngebujuk rakyat kalau negara mereka lagi di titik nadir dan cuma “satu orang kuat” (alias mereka sendiri) yang bisa nyelametin itu semua. Strategi populisme kayak gini emang ampuh banget buat narik simpati orang yang lagi ngerasa susah secara ekonomi.
Terus, liat deh cara mereka nyari “kambing hitam”. Hitler dulu hobi banget nyalahin kaum minoritas dan komunis atas semua masalah Jerman. Nah, Trump juga punya pola yang mirip dengan narasi anti-immigrant. Dia sering banget nyebut imigran itu “invasi” atau bahkan pake istilah yang cukup kasar kayak “ngeracunin darah negara kita” (poisoning the blood of our country). Data dari The New York Times juga sempet bahas kalau retorika ini mirip banget sama bahasa yang dipake Hitler di buku Mein Kampf buat ngejelekin grup tertentu.
Jangan lupain juga hubungan mereka sama media. Hitler punya Joseph Goebbels buat ngatur propaganda, sementara Trump punya istilah legendaris: “Fake News”. Keduanya sama-sama berusaha men-delegitimasi media yang nggak sejalan sama mereka. Trump sering nyebut jurnalis sebagai “musuh rakyat” (enemy of the people). Tujuannya simpel tapi ngeri choy: bikin publik bingung mana yang fakta mana yang opini, sampe akhirnya orang cuma percaya sama omongan si pemimpin doang.
Nah kalau diliat dari sisi gaya orasi, mereka berdua tuh tipikal performer. Hitler dikenal sama pidatonya yang meledak-ledak di panggung besar, sementara Trump jago banget mainin emosi massa di rally-rally besarnya dengan gaya bahasa yang blak-blakan dan non-formal. Kayaknya keduanya emang sadar kalau politik itu bukan cuma soal kebijakan di atas kertas, tapi soal gimana cara bikin massa ngerasa jadi bagian dari sebuah gerakan besar yang emosional. Fanatisme pendukungnya pun sama-sama militan banget.
Tapi, kita tetep harus objektif ya. Ada perbedaan gede yang valid : Sistem hukum. Jerman si zaman itu sistem demokrasinya lagi ringkih banget, makanya Hitler gampang banget ngerombak total jadi kediktatoran. Sementara di Amerika Serikat, sistem checks and balances masih jalan—meskipun berkali-kali diuji. Trump emang sering ngetes batas-batas hukum, tapi dia masih harus lewat proses pemilu dan berhadapan sama pengadilan yang independen, beda sama Hitler yang langsung main sikat semua lawan politiknya.
Intinya, kemiripan mereka itu lebih ke playbook atau cara main politiknya yang populis, nasionalis ekstrem, dan sering nyerang institusi demokrasi. Apakah Trump itu Hitler versi modern? Ya nggak bisa dibilang gitu juga secara saklek, karena konteks zaman dan tindakannya beda jauh.
Eh satu lagi perbedaannya, kalau Hitler dulu terkenal sangat anti sama Yahudi, Trump malah sebaliknya, dia bahkan rela boncos-boncosan ngeluarin duit negaranya sendiri buat ngebelain solmetnya yang bernama Israel. Liat aja tuh sekarang, gimana mereka ngeroyok Iran.
Kopang, 24 Ramadhan.