
MONSTER TUA DI TAMPUK TAHTA ADIDAYA.(Tafakur Tentang Trump).
Trump adalah bukti paling nyata dari era “post – truth” di mana fakta hanyalah opini yang harus dipoles. Arogansinya telah melahirkan legiun-legiun yang tidak lagi berjuang atas nama kebajikan dan kebijakan. Ia memvalidasi kebencian sebagai bentuk kejujuran, dan melabeli semua perlawanan sebagai pengkhianatan dan bahkan terorisme.
L. Faqih Saiful Hadie
Seakan Tuhan menciptakannya dari cadas yang amat keras yang kemudian dilumuri-Nya dengan lumpur kesombongan. Ia bukan sekadar politisi, tapi di panggung sejarah yang bising ini ia juga anomali politik, sosial dan ekonomi yang sebelumnya berjalan dengan wajar dan waras.
Ketika para pemimpin seusianya memilih kursi goyang sambil menulis memoar mereka dengan tenang, ia justru memilih berdiri di tengah badai, menantang petir dengan tinju terkepal. Tampak jelas aura keangkuhan dalam caranya memandang dunia, seakan realitas hanya seonggok tanah liat yang bisa ia bentuk sesuka hati. Baginya, diplomasi hanyalah permainan kata-kata tanpa konsekuensi, dan kerendahan hati adalah bahasa mereka yang kalah.
Ia membangun menara dari kritik yang sesunggugnya tak pernah ia acuhkan, bernapas di tengah kabut kontroversi, dan meminum cacian seolah itu adalah nektar keabadian. Di matanya, “tua” bukanlah sinonim dari “rapuh,” melainkan bukti dari “daya tahan.”
Ia mungkin memiliki segalanya, termasuk daya magnet untuk memecah belah. Ia juga digjaya untuk menekan siapa saja sehingga setiap orang dapat dipaksa untuk memilih hanya satu sisi dari garis demarkasi yang ia ciptakan.
Kata-katanya adalah peluru yang seringkali melukai kawan maupun lawan, dimuntahkan dengan seringai yang meremehkan segala konsekuensi.
Ia tak pernah datang untuk memperbaiki sistem, ia datang untuk membakarnya. Dua kali ia menduduki tahta adidaya di mana ia selalu menunjukkan ambisi untuk menciptakan tatanan yang hanya tunduk pada logikanya sendiri.
Di kalangan pemujanya ia mungkin seorang pahlawan yang disebut dengan konotasi-konotasi kebajikan, tapi aku lebih suka menyebutnya monster, Donald Trump Sang Monster! Monster tua bangka yang arogan.
Di mata Trump, aliansi global yang telah dijaga selama puluhan tahun hanyalah beban sejarah yang tidak efisien. Perjanjian-perjanjian damai dianggapnya sebagai rantai yang membelenggu ambisinya. Tak ada kawan tak ada lawan, semua harus patuh atau menyingkir. Monster tua ini telah merobek naskah diplomasi dengan gaya preman yang bermantel demokrasi dan HAM.
Trump adalah bukti paling nyata dari era “post – truth” di mana fakta hanyalah opini yang harus dipoles. Arogansinya telah melahirkan legiun-legiun yang tidak lagi berjuang atas nama kebajikan dan kebijakan. Ia memvalidasi kebencian sebagai bentuk kejujuran, dan melabeli semua perlawanan sebagai pengkhianatan dan bahkan terorisme.
Namanya akan selalu menjadi “brain recaller” bahwa di panggung kekuasaan, kelembutan seringkali tenggelam oleh suara guntur dari mereka yang terlalu sombong untuk menyerah pada usia. Sejarah tidak akan pernah menulis namanya dengan tinta yang samar, ia akan diukir dengan darah dan amarah yang terang benderang.
Trump akan jadi “remainder” di masa depan bahwa ternyata satu orang yang sangat arogan dan pandai mengabaikan rasa malu telah dapat mengubah arah sejarah, bukan dengan kebijaksanaan, tapi dengan sifat keras kepala yang absolut.
Kopang, 21 Ramadhan.