
100 Peserta Lintas Iman Berkemah di Aik Berik, Bupati Lombok Tengah Dijadwalkan Membuka Kegiatan
LOMBOK TENGAH – Sekitar 100 peserta dari berbagai agama dan komunitas akan mengikuti Kemah Keakraban Lintas Iman yang digelar Gusdurian Lombok Tengah di Dusun Selak Aik, Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, Sabtu-Minggu, 15–16 Agustus 2026.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Harlah Gus Dur 2026 itu dijadwalkan dibuka Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri, S.IP., M.AP.
Ketua Panitia Harlah Gusdur 2026 Lombok Tengah Muhammad Fahmi, mengatakan kemah tersebut mempertemukan peserta dari beragam latar belakang agama, organisasi, dan komunitas dalam satu ruang perjumpaan.
Peserta di antaranya berasal dari komunitas Muslim, Hindu, Buddha, Kristiani, Jemaat Ahmadiyah, Baha’i, komunitas adat, serta sejumlah komunitas lokal dan jejaring Gusdurian.
Menurut Fahmi, kemah lintas iman tidak dirancang sebatas forum dialog antaragama. Selama dua hari, peserta akan mengikuti aktivitas bersama yang menggabungkan isu keberagaman dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“Sekitar 100 orang dari berbagai agama dan komunitas akan tinggal dan berkegiatan bersama. Kami ingin perjumpaan ini tidak berhenti pada saling mengenal, tetapi tumbuh menjadi kerja bersama,” jelas Fahmi, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan Temu Jejaring Gusdurian Lombok Tengah yang melibatkan organisasi masyarakat, komunitas, unsur pemerintah, serta jaringan lintas iman.
Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kelompok-kelompok yang selama ini bergerak pada isu kemanusiaan, lingkungan, keberagaman, dan perdamaian.
Sore harinya, para peserta mulai mengikuti rangkaian Kemah Keakraban Lintas Iman. Malam nanti, panitia menyiapkan pemutaran film bertema lingkungan, diskusi, serta refleksi bersama..
Sementara itu Koordinator Sekolah Jagad Gusdurian Lombok Tengah, Sadip Indra, mengatakan pemilihan format kemah dimaksudkan agar interaksi antarpeserta berlangsung lebih terbuka dan tidak terjebak dalam pertemuan formal.
Menurut dia, keakraban antarkelompok justru lebih mudah tumbuh ketika peserta memiliki cukup waktu untuk hidup dan berkegiatan bersama.
“Kerukunan itu perlu ruang perjumpaan. Orang perlu duduk bersama, makan bersama, berdiskusi, bahkan mengerjakan sesuatu bersama. Dari situ rasa saling percaya bisa tumbuh,” kata Sadip.
Ia mengatakan isu lingkungan dipilih sebagai salah satu titik temu karena persoalan sampah, sungai, sumber air, dan kelestarian kawasan merupakan persoalan yang menyentuh semua kelompok tanpa membedakan agama atau identitas.
“Menjaga lingkungan adalah kepentingan bersama. Di situlah kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman bukan penghalang untuk bekerja pada persoalan yang sama,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan berlanjut Minggu, 16 Agustus 2026. Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri dijadwalkan hadir bersama sejumlah pejabat organisasi perangkat daerah, termasuk dari Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pariwisata.
Pada hari kedua, Gusdurian Lombok Tengah juga menjadwalkan peluncuran bank sampah, pembagian bibit pohon, serta penanaman bersama di kawasan Selak Aik, khususnya pada daerah resapan dan sekitar aliran sungai.
Peserta kemah akan turut terlibat dalam aksi menjaga kebersihan sungai. Kegiatan tersebut dimaksudkan agar percakapan mengenai lingkungan tidak berhenti dalam diskusi, tetapi diterjemahkan menjadi aksi di lapangan.
Penggerak Gusdurian Lombok Tengah, Hairul Fahmi, juga terlibat dalam persiapan rangkaian kegiatan tersebut bersama relawan dan komunitas setempat.
Bagi Gusdurian Lombok Tengah, kemah lintas iman menjadi salah satu cara menerjemahkan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Keberagaman ditempatkan bukan sebatas sebagai sesuatu yang harus ditoleransi, melainkan modal untuk bekerja bersama menyelesaikan persoalan sosial dan lingkungan.
Selama dua hari di Selak Aik, seratusan peserta dengan latar keyakinan berbeda akan tinggal dalam satu kawasan, berbagi ruang, mengikuti diskusi dan refleksi, lalu turun bersama merawat lingkungan.
Dari perjumpaan itulah Gusdurian Lombok Tengah berharap kerukunan tidak berhenti menjadi jargon, tetapi menemukan bentuknya dalam pengalaman hidup dan kerja bersama.