
Sambut TUNAS 2025, Gusdurian Lombok Tengah dan IAI Qomarul Huda Gelar Penghijauan Serentak
Isu lingkungan acapkali luput dari sorotan publik ketika membicarakan pemikiran Gus Dur. Padahal, perhatian Gus Dur terhadap keadilan ekologis sangat nyata dalam kiprah hidupnya.
Lombok Tengah, Qolama.com | Komunitas Gusdurian Lombok Tengah bersama Institut Agama Islam (IAI) Qomarul Huda Bagu akan menggelar Gerakan Penghijauan Serentak dalam rangka menyambut Temu Nasional (TUNAS) Gusdurian 2025. Aksi kolaboratif ini akan dilaksanakan pada 10 Agustus 2025 mendatang, dengan pusat kegiatan di kawasan wisata Aik Bukak, Batukliang Utara.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan program Belajar Berkarya Berbasis Kerja Lapangan (B3KL) yang tengah dijalankan oleh mahasiswa IAI Qomarul Huda Bagu. Ratusan mahasiswa akan ambil bagian dalam penanaman pohon serentak di berbagai titik di Lombok Tengah dan Lombok Barat.
Ketua LP2M IAI Qomarul Huda Bagu, Sadip Sayuti, menyebutkan bahwa lokasi penanaman tersebar di sejumlah desa, seperti Setiling, Aik Bukak, Aik Berik, Lantan, Sedau, Lebah Sempage, Pakuan, Sesaot, Reban Madani, Sekotong Tengah, Sekotong Barat, dan Batu Putih Labuan Poh.
“Kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa yang sedang menjalani B3KL. Kami ingin mereka belajar mencintai lingkungan, bukan sekadar lewat teori, tapi lewat kerja nyata di tengah masyarakat,” ujar Sadip, yang juga aktif di Gusdurian Corner kampus tersebut.
Merawat Warisan Gus Dur dalam Isu Lingkungan
Koordinator Gusdurian Lombok Tengah, Ahmad Jumaili, menyampaikan bahwa inisiatif ini sepenuhnya datang dari pihak kampus melalui LP2M, yang banyak diisi oleh mahasiswa yang juga tergabung dalam Gusdurian Corner.
“Mayoritas mahasiswa IAI Qomarul Huda adalah pengagum Gus Dur. Mereka tidak hanya mengenang Gus Dur lewat cerita, tapi juga mewujudkan nilai-nilainya dalam tindakan,” jelas Jumaili.
Ia menambahkan bahwa isu lingkungan sering kali luput dari sorotan publik ketika membicarakan pemikiran Gus Dur. Padahal, perhatian Gus Dur terhadap keadilan ekologis sangat nyata dalam kiprah hidupnya.
“Selama ini kita mengenal Gus Dur dari gagasan besar seperti demokrasi, toleransi, dan pribumisasi Islam. Tapi sesungguhnya, Gus Dur juga sangat peduli pada isu-isu lingkungan. Ia pernah mendampingi warga yang berjuang melawan perusakan alam, dan berulang kali menekankan pentingnya keadilan ekologis bagi semua,” lanjut Jumaili.
Menurutnya, penghijauan ini adalah bentuk konkret merawat warisan Gus Dur. Sebuah upaya kecil yang merefleksikan semangat menjaga harmoni—bukan hanya antara manusia dengan sesama, tapi juga antara manusia dan alam.
Gerakan penghijauan ini menjadi bagian dari semangat 9 Nilai Utama Gus Dur, salah satunya adalah komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Para mahasiswa, relawan, dan warga di berbagai desa dilibatkan untuk menanam sekaligus merawat bibit-bibit pohon sebagai simbol harapan dan keberlanjutan.
Dengan mengusung semangat kolaborasi dan kesadaran ekologis, kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih luas—di mana cinta pada bumi tidak hanya jadi slogan, tapi juga diwujudkan lewat tindakan nyata.[]