
Tabayun PBNU di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Kamis, 25 Desember 2025, tidak hanya melahirkan kesepakatan organisatoris, tetapi juga menghadirkan dua momentum emosional yang terekam kamera dan tersebar luas di media sosial.
Momentum pertama terjadi pada sesi salam-salaman penutup acara. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf tampak tak kuasa menahan tangis saat menyalami Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin dan para masyayikh sepuh NU. Dalam sejumlah video yang beredar, Gus Yahya terlihat mencium tangan dan memeluk para kiai sepuh, termasuk Rois Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, dalam suasana haru.
Momentum kedua terjadi seusai acara, ketika rombongan bersiap meninggalkan lokasi. Rois Aam PBNU KH Miftachul Akhyar diketahui sempat lupa membawa tongkatnya saat hendak menuju kendaraan. Gus Yahya yang menyadari hal tersebut segera mengambil tongkat dan menghantarkannya langsung kepada KH Miftachul Akhyar.
Dua adegan singkat itu tertangkap kamera dan menyebar luas di berbagai platform media sosial. Banyak warga NU menilai gestur tersebut sebagai simbol kuat mencairnya ketegangan yang sempat mengemuka dalam beberapa waktu terakhir.
Tanpa pernyataan resmi yang berlebihan, bahasa gestur dalam dua momentum itu dipandang mencerminkan kembalinya relasi kepemimpinan dalam bingkai adab, khidmah, dan penghormatan kepada para sesepuh. Bagi sebagian kalangan, peristiwa tersebut menjadi penanda bahwa proses islah di internal NU telah mencapai titik akhir secara kultural, bahkan sebelum diformalkan dalam keputusan organisasi.