HeadlineKesehatanQolamuna

Bersama Kurangi Kepanikan

Membocorkan data pasien Covid-19 walaupun itu benar adalah cerminan dari cacatnya nalar kita yang binal dan memanfaatkan kegemaran bergosip dan menikmati nestapa korban.

EDITORIAL QOLAMA

Pekan ini kita tercengang, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Nusa Tenggara Barat (NTB) bertambah drastis, dari yang hanya 8 orang pada, 6 April 2020, tiba-tiba pada hari Jumat, 10 April 2020, terjadi lonjakan yang sangat drastis, PDP positif bertambah 11 orang sehingga total PDP di NTB hingga hari ini sebanyak 21 Orang.

Publik-pun terkaget-kaget, bahkan ada yang menulis agak dramatik, ini lonjakan pasien PDP Covid-19 tercepat dan tertinggi di Indonesia. Tak sedikit yang mengumpat, menyalahkan dan menulis dengan satir, kebijakan telah salah, tutup bandara, Lockdown semua wilayah.

Berusaha meredakan kepanikan publik, Gubernur NTB H. Zulkiflimansyah di Fanpage Facebook pribadinya mengklarifikasi. Penambahan Pasien PDP Covid-19 di NTB yang drastis pada pekan pertama bulan April ini sebenarnya lebih dikarenakan NTB saat ini sudah memiliki alat untuk melakukan test sendiri sehingga jumlah yang diketahui Covid-19-pun wajar semakin bertambah banyak. Zul mengkonfirmasi, NTB saat ini sudah bisa melakukan tes sendiri di Mataram dan Sumbawa sekaligus, tanpa harus mengirim sampel test ke Surabaya seperti tiga pekan sebelumnya.

Sebagian publik menerima alasan Gubernur, sebagian yang lain justru menganggap pemerintah daerah hanya cari-cari alasan. Cecaran publik akhirnya sampai diubun-ubun, berita tentang lonjakan Pasien PDP ini membuat banyak orang stress. Tak sedikit yang menghujat, menyalahkan dan meminta NTB segera Lockdown dan menutup semua pintu masuk ke NTB.

Sialnya, belum selesai kepanikan atas lonjakan PDP ini. Malamnya, pada Jum’at (10/4/2020) tersiar kaba, 4 Pasien ODP di Lombok Tengah juga positif. Sumber yang ditulis sebuah media menyebut, dari Tim Satgas Covid-19 Dinas Kesehatan Lombok Tengah. Data itu dihimpun dari proses Screening atau Rapid Tes yang dilakukan tim tersebut terhadap 4 status ODP di Sebuah Kecamatan di Lombok Tengah. Wartawan rupanya terlalu bersemangat sehingga menulis inisial, alamat hingga nama kampung sang pasien behitu detail hingga publik-pun dibuat bergidik.

Berita tersebut terlanjur viral sebelum pihak Pemda Loteng buru-buru mengkonfirmasi ke wartawan bahwa, terlalu dini menyatakan hasil rapid test sebagai orang terjangkit Covid-19. Sebab setelah rapid test, ada beberapa rangkaian pemeriksaan lain yang harus dilakukan seperti Uji Swab dan ada otorisasi oleh Kemenkes RI. Pihak pemda juga menegaskan, release atas serangkaian hasil pemeriksaan (Covid-19) ini hanya boleh disampaikan oleh Ketua Satgas bukan anggota atau siapapun.

Namun sayang, berita adanya 4 Pasien Positif di Lombok Tengah ini terlanjut menyebar. Akibatnya, sejumlah tempat yang disebut sebagai lokasi Pasien Positif tersebut, berubah horor layaknya kuburan. Masyarakat takut mendatanginya. Beberapa pekerja bangunan terpaksa menunda pekerjaannya di Kecamatan itu karena takut terinfeksi korona. Begitupun toko-toko hingga tukang cukur tak satupun yang berani buka. Mirisnya, bahkan keluarga pasien ODP tersebut mulai dijauhi dan disisihkan kerabatnya sekitar.

Fenomena mengumbar identitas pasien di masa-masa Covid-19 ini di NTB memang sangat rentan berujung stigma negatif. Beberapa waktu lalu, sebuah data yang tak jelas sumbernya menyebut ratusan pasien ODP di Mataram lengkap alamat, pekerjaan hingga nomor teleponnya. Seorang keluarga pasien bahkan hingga meminta Qolama.com menulis keberatannya karena nama dan nomor istrinya menyebar di Facebook sebagai pasien ODP dan lantas menjadi santapan publik.

Tidak ada yang dapat dibenarkan dari menyebarkan data pasien sedetail itu apalagi muncul dari publik bukan dari pemerintah. Selain memang menyalahi hukum, dampaknya terhadap kewaspadaan menjadi berlebihan. Masyarakat menjadi saling curiga, saling tuduh bahkan saling menyisihkan. Padahal kita sedang melawan Covid-19 bukan sedang melawan korban.

Kita juga sebagai masyarakat, khususnya media, hendaknya lebih bijak menyebarkan informasi apapun terkait Covid-19 ini. Membocorkan data pasien walaupun itu benar adalah cerminan dari cacatnya nalar dan nurani kita yang acapkali binal mengkapitalisasi korban dan memanfaatkan kegemaran masyarakat bergosip dan menikmati nestapa orang lain.

Tim Gugus Tugas mulai Kabupaten dan Propinsi juga harus berbenah diri. Rilis-rilis yang disampaikan hendaknya lengkap bukan sekadar sepotong-potong. Informasi yang tidak lengkap mestinya disimpan saja kemudian disampaikan oleh Juru Bicara yang kapabilitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Memberikan informasi “Lepas lalu” terkait Covid-19 ini hanya akan menjadi bensin bagi para pecinta hoaks dan pencipta kepanikan.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: