Pendakian Gunung Rinjani Kembali Dibuka Dengan Protokol Kesehatan.
LOMBOK TIMUR – QOLAMA.COM | Sempat ditutup akibat wabah Covid-19, pendakian Tamana Nasional Gunung Rinjani (TNGR) kembali dibuka untuk pendakian, seiring kebijakan pemerintah memberlakukan new normal.
Wakil Gubernur NTB, Hj. Siti Rohmi Djalilah mengajak seluruh masyarakat dan pelaku pariwisata di NTB untuk mengambil hikmah dan pelajaran penting dari peristiwa wabah Covid 19.
“Pandemi Covid 19 mengajarkan banyak hal yang harus diambil hikmahnya, termasuk bagaimana membenahi TNGR kedepannya, agar menjadi destinasi wisata kelas dunia yang sehat, bersih, aman dan membawa keberkahan bagi semua” kata Rohmi ketika menghadiri acara simulasi protokol kesehatan bagi wisatawan di pintu registrasi TNGR Sembalun, Sabtu, 27 Juni 2020.
Dengan penerapan protokol kesehatan, Rinjani siap menyambut wisatawan. Beberapa protokol standar seperti penggunaan masker, cuci tangan dan pengecekan suhu tubuh dilanjutkan dengan pemeriksaan surat kesehatan pelaku perjalanan.
Di loket registrasi, petugas memindai barcode yang tertera di smartphone yang diperoleh saat memesan tiket daring. Seluruh data mulai dari foto, nama, alamat bahkan golongan darah dicocokkan dengan database komputer di loket e ticket.
Usai mencocokkan data pemesan, petugas TNGR memeriksa perlengkapan pendakian seperti jaket pelindung, tenda, matras dan barang bawaan lainnya yang wajib menyesuaikan dengan standar TNGR. Petugas kemudian memberikan kantong daur ulang berukuran sedang sebagai wadah sampah yang harus dibawa turun kembali.
“Untuk fase pertama pembukaan TNGR pada 7 Juli nanti, pihak TNGR baru membolehkan perjalanan satu hari (One Day Trip) untuk pengunjung Taman Nasional” katanya.
Rohmi meminta agar semua urutan protokol kesehatan tersebut, harus disiplin dilakukan oleh petugas bagi siapa saja yang datang berkunjung ke TNGR
Rinjani adalah tumpuan hidup bagi masyarakat NTB. Tidak hanya sebagai destinasi wisata, ia juga sumber air, sehingga kawasan Rinjani harus tetap kita jaga kebersihan, keamanan dan kelestarian serta kesuburannya.
Kepala Balai TNGR, Dedy Asriady mengatakan, beberapa kesepakatan para pihak dalam konsultasi public yang dilakukan pihaknya antara lain dalam hal perbaikan jalur pendakian yang bertambah dua di Torean kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur.
Seluruhnya sudah aman untuk digunakan. Adapula prosedur penanganan sampah dari puncak Rinjani hingga ke lereng dan sekitar kawasan Rinjani yang melibatkan komunitas lingkar Rinjani, masyarakat adat dan aturan bagi pengunjung. Kesepakatan lain adalah prosedur SAR dan peningkatan pengelolaan e Rinjani.
“Seirama dengan era pandemic, booking online akan terus ditingkatkan. Begitupula dengan pengelolaan wisata non pendakian juga sudah siap dengan protocol Covid 19”, terang Dedy.
Bupati Lombok Timur, H Sukiman Azmy yang ikut hadir menitikberatkan pada data pengunjung yang harus benar benar menjadi perhatian serius. Hal ini berkaitan dengan keselamatan pendaki jika terjadikecelakaan.
Menurutnya, masalah ini dapat diantisipasi dengan menerapkan satu pintu dan menertibkan jalur pendakian illegal yang selama ini digunakan para pendaki yang naik ke Rinjani. Selain keselamatan, hal ini juga berpengaruh pada pendapatan yang berkurang.
Sukiman menyebut kejadian saat musibah gempa dua tahun lalu dimana hanya 400 pendaki yang terdaftar namun yang dievakuasi dari puncak Rinjani dan Danau Segara Anak terhitung lebih dari 1000 orang.
“Saya juga usul pada pengelola TNGR agar dibuatkan jalur logistik untuk pengangkutan menggunakan kuda sampai pos empat. Ini untuk mengurangi beban porter yang harus melayani tiga sampai empat pengunjung”, kata.
Ia juga mengingatkan agar travel agent yang beroperasi lintas kabupaten untuk tidak membawa porter dan guide sendiri dari luar. Tetapi menggunakan porter dan guide lokal sehingga kunjungan wisatawan akhirnya berdampak pada masyarakat sekitar.